RENUNGAN PERPISAHAN (Bagian 5)

Oleh : Ustadz Abu Ghozie As Sundawie

 

Diantara amalan spesial dipenghujung Ramadhan adalah ISTIGHFAR. Dianjurkan untuk memperbanyak istighfar dari segala kekurangan dalam beribadah secara umum dan dari segala kekurangan dalam beribadah selama bulan Ramadhan secara khusus.

Sebagimana halnya istighfar adalah penutup semua ibadah seperti ibadah shalat dan ibadah-ibadah lainnya ditutup dengan istighfar.

Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu berkata :

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ: «اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Adalah Rasulullah ﷺ apabila beliau selesai mengerjakan shalatnya beristighfar 3 kali kemudian membaca Allahumma antas salam waminkas salam tabarokta ya dzal jalali wal ikram (Ya Allah Engkaulah As Salam dan dari Mu lah datangnya keselamatan maha suci Engkau yang memiliki keagungan dan kemuliaan)” (HR Muslim : 136)

Sebagaimana istighfar sebagai penutup shalat malam.

Allah ﷻ berfirman :

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar” (QS Ad-Dzariyat : 17-18)

Allah ﷻ berfirman tentang sifat orang yang bertakwa mereka beristighfar di akhir malam :

وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

“Dan yang memohon ampun di waktu sahur..” (QS Ali Imran : 17)

Umar bin Abdul Aziz –rahimahullah- berkata :

قولوا كما قال أبوكم آدم : رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ وقولوا كما قال نوحٌ عليه السلام : وَإِلاَّ تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِينَ وقولوا كما قال إبراهيمُ عليه السلام : وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ وقولوا كما قال موسى عليه السلام : رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي وقولوا كما قال ذو النون عليه السلام : لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ .

”Ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh ayah kalian Adam ‘alaihis salam, Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Al A’rof: 23). Ucapkanlah seperti yang diucapkan Nuh ‘alaihis salam, “Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Hud: 47) Ucapkanlah seperti yang diucapkan Ibrahim ‘alaihis salam, “dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat” (QS. Asy Syu’ara: 82) Ucapkanlah seperti yang diucapkan Musa ‘alaihis salam, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku” (QS. Al Qashash: 16) Begitu pula ucapkanlah seperti yang diucapkan Dzun Nun (Yunus) ‘alaihis salam, “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim” (QS. Al Anbiya’: 87) (Al Latha-if, hal. 387)

Bahkan Allah ﷻ memrintahkan Nabinya shalallahu ‘alaihi wasallam untuk beristigfar di akhir umurnya yang penuh berkah.

Allah ﷻ berfirman :

{ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا}

“Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan. Engkau melihat manusia masuk kedalam agama Allah berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Menerima taubat.” (QS An Nashr : 1-3)

Syaikh ‘Abdur-Rahman as-Sa’di rahimahullah mengatakan :

وأما الأمر بعد حصول النصر والفتح، فأمر رسوله أن يشكر ربه على ذلك، ويسبح بحمده ويستغفره… فهي الإشارة إلى أن أجل رسول الله ﷺ قد قرب ودنا، ووجه ذلك أن عمره عمر فاضل أقسم الله به وقد عهد أن الأمور الفاضلة تختم بالاستغفار، كالصلاة والحج، وغير ذلك.

Adapun perintah setelah tercapainya pertolongan dan kemenangan, Rasulullah ﷺ diperintahkan agar memperbanyak dzikir dengan memuji dan memohon ampun kepada Allah … Ayat inipun mengisyaratkan dekatnya ajalnya beliau, karena umur beliau adalah umur yang mulia yang Allah bersumpah dengan umur beliau, dimana sudah menjadi kebiasaan bahwa perkara-perkara yang mulia akan selalu ditutup dengan ISTIGHFAR seperti shalat, haji dan yang lainnya (Tafsir Al Kalim Ar Rahman)

Setelah turun surat An Nashr ini, yang kandungannya agar Nabi ﷺ memperbanyak bertasbih mensucikan Allah dengan memuji-Nya serta beristighfar, maka beliau senantiasa mengamalkannya didalam shalatnya, saat ruku’ dan sujudnya.

Sebagaimana dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha ia mengatakan :

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي يَتَأَوَّلُ الْقُرْآنَ.

Nabi ﷺ memperbanyak membaca dalam ruku dan sujudnya “SUBHANAKALLAHUMMA ROBBANA WABIHAMDIKA ALLAHUMMAGH FIRLI”, sebagai bentuk mengamalkan perintah Al Qur’an (surah An Nashr diatas) (HR Bukhari dan Muslim).

Demikianlah kedudukan istighfar dalam ibadah sebagai penutup dan penyempurna. Semoga Allah ﷻ memberi taufiq kepada kita dan kaum muslimin agar mendawamkan istighfar sepanjang hayatnya. Wallahu waliyyut Taufiq. []

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *