LAILATUL QADAR MALAM JUM’AT ?

Oleh : Ustadz Abu Ghozie As Sundawie

Penetapan malam lailatul qadar kepada malam-malam tertentu seperti malam Jum’at misalnya maka sangat butuh kepada dalil, adapun hanya berdasarkan pendapat dan ijtihad ulama maka semata-mata pendapat ulama bukanlah dalil, misalnya perkataan Al Hafidz Ibnu Rojab rahimahullah dalam penetapan lailatul qadar jika malam ganjil tersebut malam Jumat maka lebih diharapkan adanya lailatul qadar.

Maka dalam hal ini Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan :

لَيْلَةُ الْقَدْرِ مُنْحَصِرَةٌ فِي رَمَضَان، ثُمَّ فِي الْعَشْر الْأَخِيرِ مِنْهُ، ثُمَّ فِي أَوْتَارِهِ ، لَا فِي لَيْلَةٍ مِنْهُ بِعَيْنِهَا, وَهَذَا هُوَ الَّذِي يَدُلُّ عَلَيْهِ مَجْمُوع الْأَخْبَار الْوَارِدَة فِيهَا

“Lailatul Qadar hanya ada pada bulan Ramadan, kemudian di dalam sepuluh malam akhir, kemudian waktu-waktu ganjil. Bukan pada malam tertentu secara pasti. Ini yang ditunjukkan dalam sekumpulan khabar (hadits) yang ada.” (Fathul Bari, 4/260).

Maka serulah manusia untuk fokus ibadah di sepuluh akhir bulan Ramadhan, tanpa melihat malam Jumat atau malam Sabtu dan tanpa melihat genap atau ganjil, karena ganjil itu sendiri bisa dilihat dari depan sehingga malam malam ganjil itu bisa jadi malam ke 21, 23, 25, 27, dan 29, dan bisa jadi dari belakang (malam-malam yang tersisa) sehingga bisa saja malam gajil yang dimaksud adalah malam ke 20, 22, 24, 26, 28, 30 (jika bulan Ramadhannya sampai 30 hari), sebab Nabi ﷺ telah bersabda :

فَالْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ الْتَمِسُوهَا فِى التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ

“Carilah lailatul Qadar disepuluh malam yang akhir dari bulan Ramadhan, carilah malam ke 9, 7, dan 5 yang tersisa (HR Muslim)

Maka malam ke 9 yang tersisa itu artinya malam ke 22 kalau dari depan, dan malam ke 7 yang tersisa artinya malam yang ke 24 kalau dari depan, demikianlah seterusnya.

Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu berkata :

إِذَا مَضَتْ وَاحِدَةٌ وَعِشْرُونَ فَالَّتِى تَلِيهَا ثِ نْتَيْنِ وَعِشْرِينَ وَهْىَ التَّاسِعَةُ فَإِذَا مَضَتْ ثَلاَثٌ وَعِشْرُونَ فَالَّتِى تَلِيهَا السَّابِعَةُ فَإِذَا مَضَى خَمْسٌ وَعِشْرُونَ فَالَّتِى تَلِيهَا الْخَامِسَةُ

“Apabila telah berlalu malam 21 maka yang berikutnya adalah malam 22, itulah malam 9 (yang tersisa), apabila berlalu malam 23 maka yang berikutnya (malam 24) adalah malam 7 (yang tersisa), apabila telah berlalu malam 25 maka yang berikutnya (malam 26) adalah malam 5 (yang tersisa).” (HR Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

لَكِنَّ الْوِتْرَ يَكُونُ بِاعْتِبَارِ الْمَاضِي فَتُطْلَبُ لَيْلَةَ إحْدَى وَعِشْرِينَ وَلَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ وَلَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ وَلَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَلَيْلَةَ تِسْعٍ وَعِشْرِينَ.

“Akan tetapi malam ganjil itu bisa dilihat kepada hari yang telah berlalu, maka ia dicari pada malam 21, 23, 25, 27 dan 29.

وَيَكُونُ بِاعْتِبَارِ مَا بَقِيَ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ {لِتَاسِعَةٍ تَبْقَى لِسَابِعَةٍ تَبْقَى لِخَامِسَةٍ تَبْقَى لِثَالِثَةٍ تَبْقَى}.

Dan bisa dilihat kepada hari yang tersisa, sebagaimana sabda Nabi ﷺ, “Pada sembilan malam yang tersisa, tujuh malam yang tersisa, lima malam yang tersisa, tiga malam yang tersisa.”

فَعَلَى هَذَا إذَا كَانَ الشَّهْرُ ثَلَاثِينَ يَكُونُ ذَلِكَ لَيَالِيَ الْأَشْفَاعِ. وَتَكُونُ الِاثْنَيْنِ وَالْعِشْرِينَ تَاسِعَةً تَبْقَى وَلَيْلَةُ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ سَابِعَةً تَبْقَى.

Atas dasar perhitungan dengan melihat kepada hari-hari yang tersisa tersebut, apabila bulan mencapai 30 hari maka lailatul qadr terdapat pada malam-malam genap, dan jadilah malam ke-22 sebagai sembilan hari yang tersisa dan malam ke-24 sebagai tujuh hari yang tersisa.

Maka atas dasar ini jangan terperdaya dengan slogan malam Jumat ini adalah lailatul qadar karena malam ini malam Jumat yang ganjil, sehingga fokus ibadah ibadah di malam ini namun lemah ibadah di malam-malam berikutnya karena meyakini lailatul qadar telah selesai, telah berlalu.

Dan hal ini sebagaimana dikatakan juga oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

وَإِذَا كَانَ الْأَمْرُ هَكَذَا فَيَنْبَغِي أَنْ يَتَحَرَّاهَا الْمُؤْمِنُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ جَمِيعِهِ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ {تَحَرَّوْهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ} وَتَكُونُ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ أَكْثَرَ. وَأَكْثَرُ مَا تَكُونُ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ كَمَا كَانَ أبي بْنُ كَعْبٍ يَحْلِفُ أَنَّهَا لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ.

Jadi, apabila kenyataannya seperti ini maka hendaklah seorang mukmin itu berusaha mendapati lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir seluruhnya (bukan hanya pada tanggal-tanggal ganjil saja), sebagaimana sabda Nabi ﷺ, “Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir.” (Majmu’ Fatawa 25/285)

Demikian semoga tercerahkan, Wallahu waliyyut Taufiq. []

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *