HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU

Oleh : Abu Ghozie As Sundawie

Perayaan natal dan tahun baru merupakan satu paket perayaan milik agama nasrani, maka umat islam dilarang untuk ikut merayakannya dalam bentuk apapun.

Dalil atas larangan tersebut adalah firman Allah tentang sifat orang yang beriman dan bertaqwa yaitu tidak menghadiri apacara upacara agama lain.

Allah Ta’ala berfirman :

{وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا}

Dan orang-orang yang tidak menghadiri kemungkaran, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (Q.S Al Furqan : 72)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang firman Allah Z

﴿والَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ﴾ قالَ : أعْيادَ المُشْرِكِينَ

Dan orang- orang yang tidak menghadiri kemungkaran maksudnya tidak menghadiri perayaan kaum musyrikin

Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata :

وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بِشَعَائِرِ الْكُفْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ فَحَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ مِثْلَ أَنْ يُهَنِّئَهُمْ بِأَعْيَادِهِمْ وَصَوْمِهِمْ، فَيَقُولَ: عِيدٌ مُبَارَكٌ عَلَيْكَ، أَوْ تَهْنَأُ بِهَذَا الْعِيدِ، وَنَحْوَهُ، فَهَذَا إِنْ سَلِمَ قَائِلُهُ مِنَ الْكُفْرِ فَهُوَ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ، وَهُوَ بِمَنْزِلَةِ أَنْ يُهَنِّئَهُ بِسُجُودِهِ لِلصَّلِيبِ، بَلْ ذَلِكَ أَعْظَمُ إِثْمًا عِنْدَ اللَّهِ وَأَشَدُّ مَقْتًا مِنَ التَّهْنِئَةِ بِشُرْبِ الْخَمْرِ وَقَتْلِ النَّفْسِ وَارْتِكَابِ الْفَرْجِ الْحَرَامِ وَنَحْوِهِ. ” ا.هـ.

“Tahniah (ucapan selamat) atas syiar- syiar orang kafir yang menjadi kekhususan mereka hukumnya haram berdasarkan kesepakatan para ulama seperti mengucapkan selamat atas hari- hari raya mereka atau puasa mereka. Seperti mengucapkan, “Hari yang berkah atasmu”, atau “Selamat hari raya”, atau yang semisalnya maka sekalipun si pengucap selamat dari kekufuran namun dia telah terjerumus dalam perbuatan yang haram. Ucapan seperti itu sama seperti memberi ucapan selamat terhadap sujudnya mereka kepada salib. Bahkan dosanya lebih berat di sisi Allah dibandingkan dengan ucapan selamat kepada orang yang meminum khamr, membunuh, berzina atau kemaksiatan yang semisal.” (Ahkam Ahlidz Dzimmah 1/441)

Imam Jalaludin As Suyuthi rahimahullah mengatakan :

النهي عن الاحتفال بما يسمى بليلة رأس السنة الميلادية
ومما يفعله كثير من الناس في فصل الشتاء، ويزعمون أنه ميلاد عيسى عليه السلام، فجميع ما يصنع أيضاً في هذه الليالي من المنكرات، مثل: إيقاد النيران، وإحداث طعام، وشراء شمع، وغير ذلك؛ فإن اتخاذ هذه المواليد موسماً هو دين النصارى، وليس لذلك أصل في دين الإسلام. ولم يكن لهذا الميلاد ذكر في عهد السلف الماضين، بل أصله مأخوذ عن النصارى

Larangan dari perayaan yang dinamakan perayaan malam tahun baru masehi. dan ini termasuk dari perkara yang dilakukan oleh banyak manusia pada musim dingin yang menurut anggapan mereka pada saat itulah Nabi Isa ‘alaihissalam dilahirkan maka seluruh yang dilakukan pada malam- malam ini merupakan kemungkaran seperti menyalakan kembang api, membuat nakanan, membeli lilin, dan selainnya karena sesungguhnya menjadikan hari hari kelahiran sebagai hari raya adalah berasal dari ajaran nasrani yang demikian ini tidak ada asal usulnya dalam Islam, tidak pula disebutkan pada zaman salafus shalih akan tetapi asalnya dari agama Nasrani (Al Amru bil Ittiba’ wan Nahyu ‘anil Ibtida’ hal. 122).

Demikianlah sikap para ulama islam terhadap perayaan tahun baru dan natal, tidak seperti segelintir tokoh kaum pemikir yang sesat lagi menyesatkan dimana mereka membolehkannnya dengan dalih toleransi sehingga para ulama yang kokoh keilmuan dan ketakwaannya yang melarang dianggap intoleran, radikal, ekstrem, dan lain- lain. Semoga Allah memberikan hidayah, wallahu waliyyut taufiq.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *