Hukum Hujan dari Sisi Aqidah (Bagian 4)

Oleh : Ustadz Abu Ghozie As-Sundawie

[7] Do’a dan dzikir yang berkaitan dengan angin dan hujan.

1. Istighfar.

Kaitan istighfar dengan turnnya hujan adalah bahwa ucapan istighfar dapat menyebabkan turunnya hujan.

Allah a berfirman,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا  يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا  وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” [1]

As Sya’bi f menceritakan terkait ayat diatas, yang menunjukan bahwa ucapan istighfar itu menyebabkan turunnya hujan :

خَرَجَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يَسْتَسْقِي بِالنَّاسِ، فَمَا زَادَ عَلَى الِاسْتِغْفَارِ حَتَّى رَجَعَ فَقَالُوا: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ مَا رَأَيْنَاكَ اسْتسْقَيْتَ

Umar bin Al Khaththab f keluar bersama manusia untuk shalat istisqa (minta hujan), maka beliau tidak lebih dari terus terusuan beristghfar sampai beliau kembali, lalu Manusia bertanya kapada Umar, ‘Wahai Amirul Mu’minin, kami tidak melihat engkau minta hujan’.

قَالَ: ” لَقَدْ طَلَبْتُ الْمَطَرَ بِمَجَادِيحِ السَّمَاءِ الَّتِي تُسْتَنْزَلُ بِهَا الْمَطَرُ :

Lalu Umar berkata, ‘Aku sudah minta hujan (langsung) ke langit ( Maksdunya Allah yang telah menurunkan firman Nya, pen) yang dengannya Allah akan menurunkan hujan, Allah k berfirman,

{فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ}

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu” (QS Nuuh : 11)

Dan Allah a berfirman :

{اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ}

“mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu” (QS Huud : 52)” [2]

Al Hafidz Ibnu Hajar f membawakan sebuah atsar dari Hasan Al Bashri f

أَنَّ رَجُلًا شَكَى إِلَيْهِ الْجَدْبَ فَقَالَ اسْتَغْفِرِ اللَّهَ وَشَكَى إِلَيْهِ آخَرُ الْفَقْرَ فَقَالَ اسْتَغْفِرِ اللَّهَ

Sesungguhnya seseorang mengadukan kepada Al Hasan tentang musim paceklik yang terjadi. Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinannya. Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

وَشَكَى إِلَيْهِ آخَرُ جَفَافَ بُسْتَانِهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرِ اللَّهَ وَشَكَى إِلَيْهِ آخَرُ عَدَمَ الْوَلَدِ فَقَالَ اسْتَغْفِرِ اللَّهَ ثُمَّ تَلَا عَلَيْهِمْ هَذِهِ الْآيَةَ

Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada lahan (kebunnya). Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau karena sampai waktu itu belum memiliki anak. Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Kemudian setelah itu Al Hasan Al Bashri membacakan surat Nuh di atas.[3]

Imam Ibnu Katsir f menjelaskan maksud ayat diatas :

إِذَا تُبْتُمْ إِلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفَرْتُمُوهُ وَأَطَعْتُمُوهُ، كَثُرَ الرِّزْقُ عَلَيْكُمْ، وَأَسْقَاكُمْ مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبَتَ لَكُمْ مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ، وَأَنْبَتَ لَكُمُ الزَّرْعَ،

, “Jika kalian meminta ampun (beristigfar) kepada Allah dan mentaati-Nya, niscaya kalian akan mendapatkan banyak rizki, akan diberi keberkahan hujan dari langit, juga kalian akan diberi keberkahan dari tanah dengan ditumbuhkannya berbagai tanaman,

وَأَدَرَّ لَكُمُ الضَّرْعَ، وَأَمَدَّكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ، أَيْ: أَعْطَاكُمُ الْأَمْوَالَ وَالْأَوْلَادَ، وَجَعَلَ لَكُمْ جَنَّاتٍ فِيهَا أَنْوَاعَ الثِّمَارِ، وَخَلَّلَهَا بِالْأَنْهَارِ الْجَارِيَةِ بَيْنَهَا.

dilimpahkannya air susu, serta akan dilapangkan pula harta dan anak, yaitu kalian akan diberi anak dan keturunan. Di samping itu, Allah juga akan memberikan kepada kalian kebun-kebun dengan berbagai buah yang di tengah-tengahnya akan dialirkan sungai-sungai.”[4]

 

2. Dzikir ketika mendengar petir

Dari ‘Ikrimah mengatakan bahwasanya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tatkala mendengar suara petir, beliau mengucapkan,

سُبْحَانَ الَّذِي سَبَّحَتْ لَهُ، قَالَ: إِنَّ الرَّعْدَ مَلَكٌ يَنْعِقُ بِالْغَيْثِ، كَمَا يَنْعِقُ الرَّاعِي بِغَنَمِهِ.

Subhanalladzi sabbahat lahu’ (Maha suci Allah yang petir bertasbih kepada-Nya). Lalu beliau mengatakan,”Sesungguhnya petir adalah malaikat yang membentak untuk mengatur hujan sebagaimana pengembala ternak membentak hewannya.” [5]

Atau membaca :

سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ. وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ

(Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya). Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Zubair :

أَنَّهُ كَانَ إِذَا سَمِعَ الرَّعْدَ تَرَكَ الْحَدِيثَ، وَقَالَ: “سُبْحَانَ الَّذِي {يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ. وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ} ، ثُمَّ يَقُولُ: “إِنَّ هَذَا لَوَعِيدٌ شَدِيدٌ لِأَهْلِ الْأَرْضِ”.

Apabila beliau mendengar petir, dia menghentikan pembicaraan, kemudian mengucapkan,‘Subhanalladzi yusabbihur ro’du bihamdihi wal malaikatu min khiifatih’ (Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya) (QS Aro’du : 13). Kemudian beliau mengatakan, ”Inilah ancaman yang sangat keras untuk penduduk suatu negeri”. [6]

 

3. Do’a melihat mendung.

Ketika mendung dianjurkan untuk berdoa memohon perlindungan dari segala kemungkinan bahaya, serta dianjurkan untuk meninggalkan aktivtasnya.

Dianjurkan membaca :

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا»

Artinya, “Ya Allah aku berlindung kepada Mu dari keburukannya” Hal ini didasarkan kepada riwayat dari Aisyah i :

كَانَ إِذَا رَأَى نَاشِئًا فِي أُفُقِ السَّمَاءِ تَرَكَ الْعَمَلَ وَإِنْ كَانَ فِي صَلَاةٍ، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا» فَإِنْ مُطِرَ قَالَ: «اللَّهُمَّ صَيِّبًا هَنِيئًا»

“Apabila beliau melihat mendung di ufuk langit, beliau meninggalkan aktivitasnya, jika sedang dalam posisi shalat beliau berdoa, ‘Aku berlindung kepada Mu dari keburukannya’, dan apabila turun hujan beliau berdoa, ‘Ya Allah hujanilah kami dengan hujan yang bermanfa’at” [7]

 

4. Do’a ketika turun hujan.

Di sunnahkan ketika turun hujan agar berdoa dengan membaca :

«اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا»

Artinya, “Ya Allah hujanilah Kami dengan hujan yang membawa manfa’at”.

Didasarkan kepada riwayat dari Aisyah g ia berkata

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى المَطَرَ، قَالَ: «اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا»

“Bahwasanya Rasulullah k apabila melihat hujan beliau membaca doa, Allahumma shoyyiban Naafi’an (Ya Allah hujanilah kami dengan hujan yang membawa kemanfa’atan)”[8]

 

5. Do’a diijabah saat turun hujan.

Diantara momen diijabahnya doa adalah ketika turun hujan. Maka setiap muslim dianjurkan untuk memperbanyak doa dan memohon kebaikan kepada Allah baik dalam urusannya  dunianya dan lebih lebih dalam perkara akhiratnya.

Dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah k bersabda,

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

“Dua do’a yang tidak akan ditolak: do’a ketika adzan dan  do’a ketika ketika turunnya hujan.”[9]

Al Munawi f mengatakan, “Doa dibawah guyuran hujan diijabah atau kecil kemungkinannya untuk ditolak karena ketika turunnya hujan sedang turun rahmat Allah”[10]

 

6. Do’a ketika hujan tidak kunjung reda.

Ketika hujan tidak kunjung reda yang dikhawatrkan membahayakan maka dianjurkan membaca doa :

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا

“Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami saja dan jangan membahayakan kami”

Atau dengan tambahan :

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالْآجَامِ وَالظِّرَابِ وَالْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami saja dan jangan membahayakan kami. Ya Allah turunkanlah di atas bukit-bukit, gunung-gunung, bendungan air (danau), dataran tinggi, jurang-jurang yang dalam serta pada tempat-tempat tumbuhnya pepohonan.”

Berdasarkan riwayat dari Anas bin Malik f ia berkata :

أَصَابَتِ النَّاسَ سَنَةٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ عَلَى المِنْبَرِ يَوْمَ الجُمُعَةِ قَامَ أَعْرَابِيٌّ، فَقَالَ:

“Di zaman Rasulullah k manusia pernah terkena musibah paceklik kekeringan. Pada hari Jum’at ketika Nabi k sedang memberikan khutbah, tiba-tiba seorang Arab badui berdiri dan berkata,

يَا رَسُولَ اللهِ هَلَكَ المَالُ، وَجَاعَ العِيَالُ، فَادْعُ اللهَ لَنَا أَنْ يَسْقِيَنَا، قَالَ: فَرَفَعَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ وَمَا فِي السَّمَاءِ قَزَعَةٌ،

“Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan telah terjadi kelaparan, maka berdo’alah kepada Allah agar menurunkan hujan untuk kita!” Anas bin Malik berkata, “Maka Rasulullah i lalu berdoa dengan mengangkat kedua telapak tangannya. Dan saat itu tidak sedikitpun ada awan di langit.”

قَالَ: فَثَارَ سَحَابٌ أَمْثَالُ الجِبَالِ، ثُمَّ لَمْ يَنْزِلْ عَنْ مِنْبَرِهِ حَتَّى رَأَيْتُ المَطَرَ يَتَحَادَرُ عَلَى لِحْيَتِهِ،

Anas bin Malik melanjutkan perkataannya, “Maka awan seperti gunung bergerak. Beliau belum lagi turun dari mimbarnya hingga aku melihat air hujan membasahi jenggotnya.

قَالَ: فَمُطِرْنَا يَوْمَنَا ذَلِكَ، وَفِي الغَدِ، وَمِنْ بَعْدِ الغَدِ، وَالَّذِي يَلِيهِ إِلَى الجُمُعَةِ الأُخْرَى، فَقَامَ ذَلِكَ الأَعْرَابِيُّ  أَوْ رَجُلٌ غَيْرُهُ  فَقَالَ:

Maka pada hari itu kami mendapatkan hujan hingga esok harinya dan lusa, hingga hari Jum’at berikutnya. Pada hari Jum’at berikut itulah orang Arab badui tersebut, atau orang yang lain berdiri dan berkata,

يَا رَسُولَ اللهِ تَهَدَّمَ البِنَاءُ وَغَرِقَ المَالُ، فَادْعُ اللهَ لَنَا، فَرَفَعَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ، وَقَالَ: «اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا، وَلاَ عَلَيْنَا»

“Wahai Rasulullah, banyak bangunan yang roboh, harta benda tenggelam dan hanyut, maka berdo’alah kepada Allah untuk kami!” Rasulullah i lalu berdoa dengan mengangkat kedua telapak tangannya: ‘ALLAHUMMA HAWAALAINAA WA LAA ‘ALAINAA (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekeliling kami saja dan jangan sampai menimbulkan kerusakan kepada kami) ‘.

قَالَ: فَمَا جَعَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنَ السَّمَاءِ إِلَّا تَفَرَّجَتْ،

Belum lagi beliau memberikan isyarat dengan tangannya ke langit, awan tersebut telah hilang.

حَتَّى صَارَتِ المَدِينَةُ فِي مِثْلِ الجَوْبَةِ حَتَّى سَالَ الوَادِي، وَادِي قَنَاةَ شَهْرًا،

Saat itu kota Madinah menjadi seperti danau dan aliran-aliran air, bahkan tidak mendapatkan sinar matahari selama satu bulan.”

قَالَ: فَلَمْ يَجِئْ أَحَدٌ مِنْ نَاحِيَةٍ إِلَّا حَدَّثَ بِالْجَوْدِ

Anas bin Malik berkata, “Tidak ada satupun orang yang datang dari segala pelosok kota kecuali akan menceritakan tentang terjadinya hujan yang lebat tersebut.”

Dalam lafadz lain :

يَا رَسُولَ اللهِ  هَلَكَتِ الأَمْوَالُ وَانْقَطَعَتِ السُّبُلُ، فَادْعُ اللهَ يُمْسِكْهَا، قَالَ: فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ، ثُمَّ قَالَ :

“…..Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan jalan-jalanpun terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menahan hujan!” Anas berkata, “Rasulullah k lantas mengangkat kedua tangannya seraya berdoa:

«اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا، وَلاَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالجِبَالِ وَالآجَامِ وَالظِّرَابِ وَالأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ»

“Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami saja dan jangan membahayakan kami. Ya Allah turunkanlah di atas bukit-bukit, gunung-gunung, bendungan air (danau), dataran tinggi, jurang-jurang yang dalam serta pada tempat-tempat tumbuhnya pepohonan.”

قَالَ: فَانْقَطَعَتْ، وَخَرَجْنَا نَمْشِي فِي الشَّمْسِ قَالَ شَرِيكٌ: فَسَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ: أَهُوَ الرَّجُلُ الأَوَّلُ؟ قَالَ: «لاَ أَدْرِي»

Anas berkata, “Maka hujan berhenti. Kami lalu keluar berjalan-jalan di bawah sinar matahari.” Syarik berkata, “Aku bertanya kepada Anas bin Malik, ‘Apakah laki-laki itu adalah laki-laki yang pertama? ‘ Anas menjawab, ‘Aku tak tahu”. [11]

7. Dzikir setelah hujan

Dianjurkan untuk mengucapkan doa

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ.

“Kami di beri hujan karena rahmat dan karunia Allah” . didasarkan kepada riwayat Dari Zaid bin Khalid f ia berkata :

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الحُدَيْبِيَةِ، فَأَصَابَنَا مَطَرٌ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَصَلَّى لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصُّبْحَ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَقَالَ:

“Kami keluar bersama Rasulullah k saat peristiwa Hudaibiyyah, suatu malam hujan turun. Lalu Rasulullah k  mengimami kami shalat Shubuh, beliau menghadapkan wajahnya kepada orang-orang seraya bersabda:

«أَتَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟». قُلْنَا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، فَقَالَ : قَالَ اللهَ أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِي،

“Tahukah kalian apa yang sudah difirmankan oleh Rabb kalian?”. Para sahabat menjawab; “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Allah berfirman: “Di pagi ini ada hamba-hambaKu yang mukmin kepada-Ku dan ada pula yang kafir kepadaKu.

فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِرَحْمَةِ اللَّهِ وَبِرِزْقِ الله وَبِفَضْلِ الله فَهُوَ مُؤْمِنٌ بِي، كَافِرٌ بِالكَوْكَبِ،

Orang yang berkata; “Hujan turun karena karunia Allah dan rahmat-Nya, berarti dia telah beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang,

وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَجْمِ كَذَا، فَهُوَ مُؤْمِنٌ بِالكَوْكَبِ كَافِرٌ بِي “

sedangkan orang yang berkata; “Hujan turun disebabkan bintang ini atau itu, maka dia telah beriman kepada bintang-bintang dan kafir kepadaKu.” [12]

[1]  QS Nuuh : 10-12

[2]  HR Ibnu Abi Syaibah, Al Mushanif 2/221 (8343), lihat Tafsir bnu Katsir 8/233, Tafsir Thabari  23/293

[3]  Fathul Bari, Ibnu hajar  11/98.

[4] Tafsir Ibnu Katsir 8/233

[5] Adabul Mufrod (722), dihasankan oleh Syaikh Al Albani, shahih Adabul Mufrad (559)

[6]  Adabul Mufrod (723), dishohihkan oleh Syaikh Al Albani

[7]  HR Abu Dawud : 2540

[8]  HR Bukhari : 1032

[9] HR. Al Hakim , Al Mustadrak (2534), Thabrani, Al Kabir (5756), dan Al Baihaqi, Al kabir (6459),  Lihat Shohihul Jaami’ no. 3078.

[10]  Faidhul Qadir 3/340

[11]  HR Bukhari : 1013, Muslim : 897

[12]  HR Bukhari : 4147

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *