Hukum Hujan dari Sisi Aqidah (Bagian 2)

Oleh : Ustadz Abu Ghozie As-Sundawie

[3] Hujan terkadang membawa adzab.

Tidak selamanya mendung itu pertanda akan turunnya hujan yang membawa rahmat,  akan tetapi mendung, angin dan hujan terkadang tanda turunnya adzab, membawa musibah dan bencana.

Dari Aisyah g berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَصَفَتِ الرِّيحُ، قَالَ: «اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ،

“Adalah Nabi k apabila ada angin bertiup kencang sekali, beliau membaca, Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu kebaikan angin, kebaikan yang dikandung oleh angin dan kebaikan yang dibawa oleh angin,

وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ»، قَالَتْ: وَإِذَا تَخَيَّلَتِ السَّمَاءُ، تَغَيَّرَ لَوْنُهُ، وَخَرَجَ وَدَخَلَ، وَأَقْبَلَ وَأَدْبَرَ،

dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang diakibatkan olehnya). Aisyah g berkata, “Apabila langit gelap berawan, beliau agak pucat, keluar masuk rumah, ke depan dan ke belakang.

فَإِذَا مَطَرَتْ، سُرِّيَ عَنْهُ، فَعَرَفْتُ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ، قَالَتْ عَائِشَةُ: فَسَأَلْتُهُ، فَقَالَ : لَعَلَّهُ، يَا عَائِشَةُ كَمَا قَالَ قَوْمُ عَادٍ: {فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا}

Jika telah turun hujan, beliau merasa lega dan hal itu aku ketahui dari raut wajahnya. Maka aku menanyakannya kepada beliau dan beliau menjawab, ‘wahai Aisyah! Aku khawatir kalau cuaca seperti ini menjadi seperti apa yang diucapkan oleh kaum Aad, “Maka tatkala mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah, berkatalah mereka, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami (padahal yang turun bukan hujan tapi adzab, pen) (Qs. Al Ahqaaf : 24)” [1]

Terkadang hujan turun mengguyur bumi akan tetapi tidak membawa keberkahan, yang ada hanya adzab dan siksa. Seperti hujan yang membawa petaka banjir, longsor, dan tidak membawa pengaruh dalam kehidupan.

Anas bin Malik f berkata :

أَصَابَتِ النَّاسَ سَنَةٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ عَلَى المِنْبَرِ يَوْمَ الجُمُعَةِ قَامَ أَعْرَابِيٌّ،

“Di zaman Rasulullah k manusia pernah terkena musibah paceklik kekeringan. Pada hari Jum’at ketika Nabi k sedang memberikan khutbah, tiba-tiba seorang Arab badui berdiri

فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ هَلَكَ المَالُ، وَجَاعَ العِيَالُ، فَادْعُ اللهَ لَنَا أَنْ يَسْقِيَنَا،

dan berkata, “Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan telah terjadi kelaparan, maka berdo’alah kepada Allah agar menurunkan hujan untuk kita!”

قَالَ : فَرَفَعَ رَسُولُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ وَمَا فِي السَّمَاءِ قَزَعَةٌ،

Anas bin Malik f berkata, “Maka Rasulullah k lalu berdoa dengan mengangkat kedua telapak tangannya. Dan saat itu tidak sedikitpun ada awan di langit.”

قَالَ : فَثَارَ سَحَابٌ أَمْثَالُ الجِبَالِ، ثُمَّ لَمْ يَنْزِلْ عَنْ مِنْبَرِهِ حَتَّى رَأَيْتُ المَطَرَ يَتَحَادَرُ عَلَى لِحْيَتِهِ،

Anas bin Malik f melanjutkan perkataannya, “Maka awan seperti gunung bergerak. Beliau belum lagi turun dari mimbarnya hingga aku melihat air hujan membasahi jenggotnya.

قَالَ: فَمُطِرْنَا يَوْمَنَا ذَلِكَ، وَفِي الغَدِ، وَمِنْ بَعْدِ الغَدِ، وَالَّذِي يَلِيهِ إِلَى الجُمُعَةِ الأُخْرَى،

Anas berkata, “Maka pada hari itu kami mendapatkan hujan hingga esok harinya dan lusa, hingga hari Jum’at berikutnya.

فَقَامَ ذَلِكَ الأَعْرَابِيُّ  أَوْ رَجُلٌ غَيْرُهُ  فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ تَهَدَّمَ البِنَاءُ وَغَرِقَ المَالُ،

Pada hari Jum’at berikut itulah orang Arab badui tersebut, atau orang yang lain berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, banyak bangunan yang roboh, harta benda tenggelam dan hanyut,

فَادْعُ اللهَ لَنَا، فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ، وَقَالَ :

maka berdo’alah kepada Allah untuk kami!” Rasulullah k lalu berdoa dengan mengangkat kedua telapak tangannya:

«اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا، وَلاَ عَلَيْنَا» قَالَ : فَمَا جَعَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنَ السَّمَاءِ إِلَّا تَفَرَّجَتْ،

Ya Allah, turunkanlah hujan di sekeliling kami saja dan jangan sampai menimbulkan kerusakan kepada kami ‘. Belum lagi beliau memberikan isyarat dengan tangannya ke langit, awan tersebut telah hilang.

حَتَّى صَارَتِ المَدِينَةُ فِي مِثْلِ الجَوْبَةِ حَتَّى سَالَ الوَادِي، وَادِي قَنَاةَ شَهْرًا، قَالَ: فَلَمْ يَجِئْ أَحَدٌ مِنْ نَاحِيَةٍ إِلَّا حَدَّثَ بِالْجَوْدِ

Saat itu kota Madinah menjadi seperti danau dan aliran-aliran air, bahkan tidak mendapatkan sinar matahari selama satu bulan.” Anas bin Malik berkata, “Tidak ada satupun orang yang datang dari segala pelosok kota kecuali akan menceritakan tentang terjadinya hujan yang lebat tersebut.”

Dari Abu Hurairah f , Rasulullah k bersabda :

«لَيْسَتِ السَّنَةُ بِأَنْ لَا تُمْطَرُوا، وَلَكِنِ السَّنَةُ أَنْ تُمْطَرُوا وَتُمْطَرُوا، وَلَا تُنْبِتُ الْأَرْضُ شَيْئًا»

“kemarau itu bukanlah tidak berarti harus tidak turunnya hujan, akan tetapi keamarau itu juga adalah kalaian di guyur turunnya hujan, lalu hujan akan tetapi tidak menumbuhkan sesuatu tumbuhan” [2]

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin f berkata :

وَالْمَطَرُ نُزُوْلُهُ مِفْتَاحٌ لِحَيَاةِ الْأَرْضِ بِالنَّبَاتِ، وَبِحَيَاةِ النَّبَاتِ يَكُوْنُ الْخَيْرَ فِيْ المَرْعَى وَجَمِيْعَ مَا يَتَعَلَّقُ بِمَصَالِحِ الْعِبَادِ.

Turunnya hujan adalah kunci kehidupan bumi dengan tumbuh tumbuhan, muncullah kebaikan di padang gembala dan segala hal yang berkaitan dengan kebaikan manusia.

وَهُنَا نُقْطَة : قَالَ : وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ ، وَلَمْ يَقُلْ: وَيَنْزِلُ الْمَطَرُ، لِأَنَّ الْمَطَرَ أَحْيَاناً يَنْزِلُ وَلَا يَكُوْنُ فِيْهِ نَبَاتٌ، فَلَا يَكُوْنُ غَيْثاً، وَلَا تَحْيَا بِهِ الْأَرْضُ،

Disini terdapat satu hal yang layak diperhatikan dimana Allah berfirman, وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ ‘Menurunkan hujan (dengan menggunakan lafadz “Ghaits” yang artinya menghilangkan kesulitan) dan tidak berfirman, وَيَنْزِلُ الْمَطَرُ ‘Hujan turun’ (dengan lafadz “Mathor” artinya hujan), karena al Mathor (hujan) terkadang turun tanpa menumbuhkan apapun, ia tidak berupa al Ghaits (menghilangkan kesulitan),  bumi tidak hidup dengannya,

وَلِهَذَا ثَبَتَ فِيْ صَحِيْحِ مُسْلِمٍ: لَيْسَتِ السَّنَةُ بِأَنْ لَا تُمْطَرُوا، وَلَكِنِ السَّنَةُ أَنْ تُمْطَرُوا وَتُمْطَرُوا، وَلَا تُنْبِتُ الْأَرْضُ شَيْئًا

oleh karena itu terdapat hadts dalam shahih Muslim, yang berkata : Paceklik itu bukan karena kalian tidak di turunkan hujan, paceklik itu adalah kalian diturunkan hujan dan di turunkan hujan akan tetapi tidak menumbuhkan apapun” [3]

[4] Menanamkan rasa takut akan turunnya adzab.

Diantara perkara yang dianjurkan adalah menanamkan rasa takut akan turunnya adzab Allah a ketika ada angin kencang, mendung yang gelap serta hujan deras yang tidak kunjung reda.

Itulah yang dirasakan oleh Rasulullah k sebagai teladan kita, beliau menunjukan bagaimana bersarnya rasa  takutnya akan adzab Allah a turun terhadap umatnya ketika ada angin kencang atau mendung yang gelap padahal beliau adalah manusia termulia yang mendapat jaminan Allah keselamatan dunia akhiratnya. Akan tetapi beliau memohon perlindungan dari keburukan dan memohon rahmat Nya.

Aisyah g berkata :

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ الرِّيحِ وَالْغَيْمِ، عُرِفَ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ، وَأَقْبَلَ وَأَدْبَرَ، فَإِذَا مَطَرَتْ سُرَّ بِهِ، وَذَهَبَ عَنْهُ ذَلِكَ،

“Adalah Rasulullah k apabila ada angin kencang serta mendung gelap Nampak (ketakutan) di wajahnya, beliau keluar masuk, lalu ketika hujan itu turun beliau gembira dengannya, hilanglah (ketakutannya).

قَالَتْ عَائِشَةُ: فَسَأَلْتُهُ، فَقَالَ: «إِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَكُونَ عَذَابًا سُلِّطَ عَلَى أُمَّتِي»، وَيَقُولُ، إِذَا رَأَى الْمَطَرَ: «رَحْمَةٌ»

Aisyah berkata, ‘Lalu aku tanyakan kepada beliau (kenapa sebabnya)’. Maka beliaupun bersabda, “Sesungguhnya aku takut di timpakan adzab terhadap umatku”. Beliau kalau melihat hujan berkata, “ia adalah rahmat” [4]

Dalam lafadz lain :

إذَا رَأَى فِي السَّمَاءِ غُبَاراً أوْ ريحاً تَعَوَّذَ بِاللهِ مِنْ شَرِّهِ، فَإذَا أمْطَرَتْ قَالَ: “اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

“Apabila beliau melihat debu dan angin dilangit, beliau berlindung kepada Allah dari keburukannya, apabila diturnkan hujan maka beliau berdoa, Ya Allah Hujanilah kami dengan hujan yang member manfa’at” [5]

Bahkan sampai sampai beliau k meninggalkan aktivitasnya dikala terjadi mendung. Aisyah g berkata :

كَانَ إِذَا رَأَى نَاشِئًا فِي أُفُقِ السَّمَاءِ تَرَكَ الْعَمَلَ وَإِنْ كَانَ فِي صَلَاةٍ، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا» فَإِنْ مُطِرَ قَالَ: «اللَّهُمَّ صَيِّبًا هَنِيئًا»

“Apabila beliau melihat mendung di ufuk langit, beliau meninggalkan aktivitasnya, jika sedang dalam posisi shalat beliau berdoa, ‘Aku berlindung kepada Mu dari keburukannya’, dan apabila turun hujan beliau berdoa, ‘Ya Allah hujanilah kami dengan hujan yang bermanfa’at” [6]

Imam An Nawawi g berkata :

فِيهِ الِاسْتِعْدَاد بِالْمُرَاقَبَةِ لِلهِ وَالِالْتِجَاء إِلَيْهِ عِنْد اِخْتِلَاف الْأَحْوَال وَحُدُوْثِ مَا يُخَاف بِسَبَبِهَا ،

“Didalam hadits tersebut (menunjukan) kesiapan (menghadapi kematian) dengan merasa diawasi oleh Allah dan segera bertaubat kepada Nya ketika ada perubahan gejala alam, atau ada peristiwa yang menyebabkan ketakutan.

وَكَانَ خَوْفُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُعَاقَبُوا بِعِصْيَانِ الْعُصَاةِ ، وَسُرُورُهُ لِزَوَالِ سَبَبِ الْخَوْف .

Takutnya Rasulullah k adalah turunnya adzab karena sebab kemaksiatan yang dilakukan manusia, dan kebahagian Rasulullah a adalah manakal hilangnya sebab trurunnya adzab (ketika turunnya hujan)” [7]

[1]  HR Muslim : 899

[2]  HR Muslim : 2904, Ahmad, Al Musnad : 8688

[3]  Syarah Aqidah Al Wasithiyah, syaikh Al Utsaimin 1/195, Dar Ibnu Zauzi, cet. Ke-4 th 1424 H

[4]  HR Muslim : 899, syarah Muslim, An Nawawi  6/196

[5]  HR Ibnu Hibban, Mawarid Dhaman Ila Zawaid Ibni Hibban 2/335 (600), Ahmad , al Musnad 6/222

[6]  HR Abu Dawud : 2540

[7]  Syarah Muslim , An Nawawi 6/196

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *