Hukum Hujan dari Sisi Aqidah (Bagian 1)

Oleh : Ustadz Abu Ghozie As-Sundawie

Didalam turunya hujan terdapat hukum dan adab  yang berkaitan dengan masalah aqidah yang dengannya seorang Muslim dituntut untuk meyakininya dengan benar, diantara keyakinan tersebut :

[1] Turunnya hujan merupakan kunci ghaib.

Turunnya hujan merupakan salah satu perkara ghaib  dimana tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah a.

Allah a berfirman :

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok . Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. [1]

Inilah lima kunci ghaib sebagaimana yang di tafsirkan oleh Rasulullah k didalam haditsnya, dari Ibnu ‘Umar f , Rasulullah k bersabda :

مِفْتَاحُ الغَيْبِ خَمْسٌ لاَ يَعْلَمُهَا إِلَّا اللهُ لاَ يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِي غَدٍ، وَلاَ يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِي الأَرْحَامِ،

“Kunci ilmu ghoib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah a Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yangg terjadi keesokan harinya. Tidak ada seorang pun mengetahui apa yang terjadi dalam rahim.

وَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا، وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ، وَمَا يَدْرِي أَحَدٌ مَتَى يَجِيءُ المَطَرُ

Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang ia lakukan besok. Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui di manakah ia akan mati. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan turunnya hujan” [2]

Didalam lafadz lain disebutkan  :

أُوتِيتُ مَفَاتِيحَ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا الْخَمْسَ: {إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنزلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ}

“Aku di beri kunci segala sesuatu kecuali kunci (ghaib) yang lima, yaitu (Allah a berfirman) : Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok . Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS Luqman : 34)”. [3]

Qatadah f ia berkata ;

{وَيُنزلُ الْغَيْثَ} ، فَلَا يَعْلَمُ أَحَدٌ مَتَّى يَنْزِلُ الْغَيْثُ، لَيْلًا أَوْ نَهَارًا

“(Allah a berfirman) Dan Dialah yang menurunkan hujan, maka tidak ada yang tahu siapapun  kapan turunnya hujan apakah diwaktu malam atau di waktu siang (kecuali Allah)” [4]

 

[2] Turunnya hujan merupakan rahmat dan airnya barokah.

Hujan adalah ni’mat yang besar bagi para Makhluk Allah, dengannya bumi subur, tumbuh segala macam tumbuhan, dan menjadi sebab terciptanya kehidupan pada makhluk-Nya baik manusia, binatang atau tumbuhan.

Allah a berfirman :

وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفاً وَطَمَعاً وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Di antara bukti kekuasaan Allah adalah Allah memperlihatkan kepada kalian kilat untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Allah menurunkan air hujan dari langit maka dengan air itu Allah menghidupkan bumi setelah matinya, sesungguhnya di dalam itu semua terkandung bukti kekuasaan Allah bagi kaum yang mempergunakan akalnya.” (QS. Ar-Ruum : 24).

Allah a berfirman :

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكاً فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

 “Dan Kami turunkan dari langit air hujan yang penuh dengan berkah yang dengan itu Kami tumbuhkan pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS. Qaaf : 9).

Rasulullah k suka berbasah basah dengan air hujan, beliau singkapkan sedikit pakaiannya agar terkena air hujan  ketika hujan itu turun, hal ini sebagaimana di riwayatkan dari Anas bin Malik f ia berkata :

أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَطَرٌ، قَالَ: فَحَسَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَوْبَهُ، حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ الْمَطَرِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا؟ قَالَ: «لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى»

“Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah k lalu beliau menyingkapkan baju sehingga air hujan mengenainya. Lalu kami bertanya, ‘Mengapa engkau melakukan hal itu wahai Rasulullah ?’. Beliaupun menjawab, Karena hujan itu (makhluk) yang baru saja Allah ciptakan” [5]

Imam An Nawawi f berkata :

وَمَعْنَاهُ أَنَّ الْمَطَرَ رَحْمَةٌ وَهِيَ قَرِيبَةُ الْعَهْدِ بِخَلْقِ اللهِ تَعَالَى لَهَا فَيُتَبَرَّكُ بِهَا وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ دَلِيلٌ لِقَوْلِ أَصْحَابِنَا أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ عِنْدَ أَوَّلِ الْمَطَرِ أَنْ يَكْشِفَ غَيْرَ عَوْرَتِهِ لِيَنَالَهُ الْمَطَرُ

Maknanya bahwa hujan itu rahmat dan ia yang baru di ciptakan Allah a dengannya Rasulullah bertabaruk (ngalap berkah), Dan hadits ini sebagai dalil bagi pendapat madzhab kami bahwasanya di anjurkan untuk menyingkap (bajunya) yang bukan menampakan aurat di awal turnnya hujan agar terkena air hujan” [6]

Abul Abbas Al Qurthubi f berkata :

بِإِيْجَادِ رَبِّهِ لَهُ ، وَهَذَا مِنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تبرُّك بِالْمَطَرِ ، واستشفاء به ؛ لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى قَدْ سَمَّاهُ رَحْمَةً ، وَمُبَارَكًا ، وَطَهُوْرًا ، وَجَعَلَهُ سَبَبَ الحَيَاةِ ، وَمُبْعَدًا عَنِ الْعُقُوْبَةِ ، وَيُسْتَفَادُ مِنْهُ احترام المطر ، وَتَرْكُ الْاِسْتِهَانَةِ بِهِ “

(air hujan) makhluk yang baru di ciptakan, dengan sebab ini Rasulullah bertabaruk (ngalap berkah) dengan air hujan dengan mengharap kesembuhan,  karena Allah a menamakannya rahmat, barokah, suci, dan sebabnya kehidupan, serta jauhnya dari siksa, dan diambil faedah darinya anjuran menghormati (memuliakan) hujan dan tidak menghinakannya” [7]

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin f berkata,

وَيُسَنُّ أَنْ يَقِفَ فِي أَوَّلِ المَطَرِ، وَإِخْرَاجُ رَحْلِهِ وَثِيَابِهِ لِيُصِيبَهُمَا المَطَرُ...وَهَذِهِ السُّنَّةُ ثَابِتَةٌ فِيْ الصَّحِيْحِ،

‘Disunnahkan untuk berdiri dikala pertama kali hujan turun, mengeluarkan barang barangnya atau pakaiannya (untuk dikenai air hujan)…Dan sunnah ini ada dalilnya didalam hadits yang shahih,

وَعَلَيْهِ فَيَقُوْمُ الْإِنْسَانُ وَيخرج شيئاً مِنْ بَدَنِهِ إِمَّا مِنْ سَاقِهِ، أَوْ مِنْ ذِرَاعِهِ، أَوْ مِنْ رَأْسِهِ حَتَّى يُصِيْبَهُ الْمَطَرُ اتِبَاعاً لِسُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

dimana seseorang di anjurkan berdiri, lalu mengeluarkan salah satu anggota badannya bisa berupa betisnya, atau lengannya, atau kepalanya sehingga terkena air hujan sebagai bentuk ittiba’ kepada sunnah Nabi k  “  [8]

[1]  QS Luqman : 34

[2]  HR Bukhari (1039),

[3]  HR Ahmad, Al Musnad 2/85 (5579)

[4]  Tafsir Ibnu Katsir 6/355

[5]  HR Muslim (898)

[6]  Syarah Muslim, An Nawawi 6/196

[7]  Al Mufhim lamma Asykala Min Talkhisi Shahih Muslim, Al Qurthubi 2/546

[8]  Syarhul Mumti’ , ibnu Utsaimin 5/224-225

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *