BERMAKMUM KEPADA IMAM YANG MUSBIL

SOAL  :

Assalalmu ‘alaikum Ustadz , bagimana apabila Imam mengenakan pakaian yang isbal (melewati mata kaki) apakah kita sebagai makmum mengulang lagi shalat atau bagaimana ? dari Bambang di Pandaan Jawa Timur

JAWAB :

Waalaikum salam, Akhuna Bambang di Pandaan semoga Allah menambah ilmu dan pemahaman serta di beri taufiq untuk mengamalkannya sehingga menjadi ilmu yang bermanfaat.

Isbal artinya memanjangkan atau menjulurkan pakaian baik celana, kain, sarung atau baju yang melewati mata kakinya sampai menyentuh tanah.

Isbal hukumnya haram baik melakukannya karena sombong ataupun tidak ada niat sombong. Akan tetapi kalau melakukan isbal karena kesombongan maka dosanya lebih berat lagi.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda;

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ.

“Kain sarung yang dibawah mata kaki, maka berada di dalam Neraka.”
(HR. Bukhari Juz 5 : 5480)

Diriwayatkan pula dari ’Abdullah (bin ’Umar) radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda;

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, (maka) tidak akan dilihat oleh Allah pada Hari Kiamat.”
(Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari  : 5447, lafazh ini miliknya dan Muslim  : 2085.)

Isbal diharamkan meskipun tidak dilakukan dengan kesombongan. Karena sebenarnya isbal itu sendiri adalah bentuk kesombongan.

Hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Salim radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

اِرْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ، فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ، وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ، وَإِنَّ اللَّهَ لَايُحِبُّ الْمَخِيْلَةَ

“Angkatlah kain sarungmu hingga pertengahan betis. Jika engkau enggan, maka (angkatlah) hingga kedua mata kaki. Dan janganlah mengulurkan pakaian melebihi mata kaki (isbal), kerena isbal adalah termasuk kesombongan. Dan Allah tidak menyukai kesombongan.”
(HR. Ahmad dan Abu Dawud : 4084, lafazh ini miliknya. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani  dalam Shahihul Jami’ : 7309.)

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah ;

“Hadits-hadits ini (hadits-hadits tentang isbal) menunjukkan bahwa melakukan isbal yang disertai dengan rasa sombong, merupakan salah satu dari dosa-dosa besar. Adapun jika dilakukan dengan tidak disertai dengan rasa sombong, maka sesuai dengan dhahir hadits-hadits tersebut juga diharamkan.”
( Fathul Bari, 10/263).

Orang yang melakukan isbal ketika shalat baik ia sebagai Imam ataupun Makmum maka shalatnya tetap shah akan tetapi tentunya akan mempengaruhi ganjaran shalatnya karena sebab dosa yang ia lakukan.

Adapun Hadits Abu Hurairah tentang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan mengulang shalat yang melakukan isbal (musbil) didalam shalatnya adalah Hadits yang tidak shah sebagaimana dinyatakan oleh Imam An-Nawawie rahimahullah demikian juga apa yang dinyatakan oleh Syaikh Al-Al Bani rahilahullah  :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: بَيْنَمَا رَجُلٌ يُصَلِّي مُسْبِلًا إِزَارَهُ إِذْ قَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ»، فَذَهَبَ فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ جَاءَ، ثُمَّ قَالَ: «اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ»، فَذَهَبَ فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ جَاءَ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَكَ أَمَرْتَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ، ثُمَّ سَكَتَّ عَنْهُ، فَقَالَ: «إِنَّهُ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ مُسْبِلٌ إِزَارَهُ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يَقْبَلُ صَلَاةَ رَجُلٍ مُسْبِلٍ إِزَارَهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata “Ketika ada seseorang yang sedang shalat sementara kainnya menjulur melewati mata kakinya, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “ Pergilah dan berwudhulah . maka ia pun berwudhu lalu datang lagi kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda lagi kepadanya, “ Pergilah dan berwudhulah. Maka ada orang yang bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam “wahai Rasulullah mengapa engkau suruh orang itu untuk berwudhu ? beliau pun terdiam, lalu bersabda: Sesungguhnya ia shalat karena menjulurkan pakaiannya dibawah mata kaki, karena Allah Ta’ala tidak akan menerima shalatnya orang yang Musbil”
(HR Abu Dawud : 638) (lihat fatwa lajnah ad-Daaimah 7/203 no fatwa : 20238)

Lalu bagaimana kalau orang yang melakukan isbal menjadi Imam shalat? apakah shah shalatnya makmum ? Jawabannya adalah bahwa Imam itu telah berdosa, dan shalatnya Shah, karena isbal bukanlah pembatal shalat, adapun berkaitan shalatnya makmum, maka makmum juga shah shalatnya Karena makmum tidaklah menanggung dosanya Imam.

Dari abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

يُصَلُّونَ لَكُمْ، فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ، وَإِنْ أَخْطَئُوا  فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

Imam itu shalat mengimami kalian kalau mereka shalatnya benar maka kalian dan dia mendapat pahala, adapun kalau Imam itu keliru maka kalian (tetap) dapat pahala sementara kesalahannya atas mereka”.
(HR Bukhari : 694).

Wallahu a’lam.
Semoga bermanfaat.
______________

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *