KEDUDUKAN ILMU

Ilmu syari’at memiliki kedudukan yang sangat agung dalam agama kita, diantara kedudukan tersebut :

[1] Menuntut ilmu adalah bentuk jihad.

Menuntut ilmu adalah bagian dari jihad di jalan Allah untuk menegakan agama. Karena sebagaimana dengan jihad islam menjadi tegak, demikian halnya islam tegak dengan ilmu.

Allah Ta’ala berfirman :

فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا

Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar”. (QS Al Furqan : 52).

Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata tentang ayat ini :

وَإِنَّمَا جُعِلَ طَلَبُ العلمِ مِنْ سَبيلِ اللَّهِ لِأَنَّ بِهِ قَوَّامَ الإسلامِ كَمَا أنَّ قَوَامَهُ بِاْلجِهَادِ فَقَوَامُ الدِّيْنِ بِالْعِلْمِ وَاْلجِهَادِ. وَلِهَذَا كَانَ اْلجِهَادُ نَوْعَيْنِ : جِهَادٌ بِاْليَدِ وَالسِّنَانِ وَهَذَا اْلمُشَارِقُ فِيْهِ كَثِيْرٌ وَالثَّانِيْ اَلْجِهَادُ بِالْحُجَّةِ وَاْلبَيَانِ وَهَذَا جِهَادُ الْخَاصَّةِ مِنْ أَتْبَاعِ الرَّسُوْلِ وَهُوَ جِهَادُ اْلأئِمَةِ وَهُوَ أَفْضَلُ اْلجِهَادَيْنِ لِعَظَمِ منْفَعَتِهِ وشدَّةِ مُؤْنَتِهِ وكَثْرَةِ أَعْدَائِهِ. قَالَ تَعَالَى فِيْ سُوْرَةِ اْلفُرْقَانِ : فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا فَهَذَا جِهَادٌ لَهُمْ بِاْلقُرْآنِ


“Dan sesungguhnya menuntut ilmu dijadikan bagian dari berjihad di jalan Allah (Fi Sabilillah) adalah dikarenakan bahwa dengan menuntut ilmu Islam menjadi tegak sebagaimana tegaknya Islam juga dengan jihad. Oleh karena itu Jihad terbagi kepada dua macam, pertama Jihad dengan tombak dan pedang (senjata), jihad jenis ini bisa diikuti oleh semua lapisan kaum Muslimin, baik ‘alim ataupun orang awam. Dan yang kedua Jihad ilmu dan bayan (penjelasan/hujah), Jihad model ini hanya bisa diikuti oleh orang-orang khusus yaitu mereka para pewaris para Nabi, para ulama. Inilah Jihad yang paling afdhal diantara dua jihad karena lebih besar manfa’atnya untuk tegaknya agama Allah, lebih berat karena lebih banyak pihak musuhnya”. Allah Ta’ala berfirman diusrah Al Furqan : “Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar”. (QS Al Furqan : 52)maka ini adalah berjihad kepada mereka dengan Al Quran.(Miftah Daaris Sa’adah, Ibnul Qayyim, 1:271).

Abu Darda’ radhiyallahu anhu
mengatakan :

مَا مِنْ أَحَدٍ يَغْدُوْ إِلَى الْمَسْجِدِ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أوْ يُعَلِّمُهُ إِلَّا كُتِبَ بِهِ أَجْرُ مُجَاهِدٍ لَا يَنْقَلِبُ إِلَّا غَنِمًا

“Tidaklah seorangpun yang berangkat ke Masjid untuk mempelajari kebikan (ilmu syari’at) atau mengajarkan kebaikan kecuali dicatat dengannya pahala orang yang berperang dijalan Allah, yang tidaklah ia pulang kecuali membawa ghonimah (harta rampasan perang)”. (Al Ma’rifah Wat Tarikh, Imam Al Hafidz Ya’qub Bin Sufyan Al Fasawi 3: 400).

Sampai-sampai Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan :

مَنْ رَأَى اْلغُدُوَّ وَالرَّوَاحَ إِلَى اْلعِلْمِ لَيْسَ بِجِهَادٍ فَقَدْ نَقَصَ عَقْلُهُ وَرَأْيُهُ

“Barang siapa yang berpendapat bahwa berangkat pagi dan petang untuk menuntut ilmu itu bukan jihad, maka sungguh telah berkurang akalnya (tidak waras) dan pikirannya”. (Jami’u Bayanil ‘Ilmi wa fadluh : 159).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu , Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

مَنْ خَرَجَ لِطَلَبِ اْلعِلْمِ فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Barangsiapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka ia berada di Jalan Allah sampai ia kembali “. (HR Tirmidzi : 2947)

[2] Menuntut ilmu penyebab mudahnya jalan masuk surga.

Dari Qais bin Katsir. la berkata :

قَدِمَ رَجُلٌ مِنْ الْمَدِينَةِ عَلَى أَبِي الدَّرْدَاءِ وَهُوَ بِدِمَشْقَ فَقَالَ مَا أَقْدَمَكَ يَا أَخِي فَقَالَ حَدِيثٌ بَلَغَنِي أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ أَمَا جِئْتَ لِحَاجَةٍ قَالَ لَا قَالَ أَمَا قَدِمْتَ لِتِجَارَةٍ قَالَ لَا قَالَ مَا جِئْتُ إِلَّا فِي طَلَبِ هَذَا الْحَدِيثِ قَالَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضَاءً لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Seseorang dari kota Madinah datang menghampiri Abu Ad-Darda\ sedangkan ia sedang berada di kota Damaskus.” Abu Ad-Darda’ bertanya, “Apa yang membuatmu datang ke sini, wahai saudaraku?” Ia menjawab, “Ada ucapan yang sampai kepadaku bahwa dirimu menyampaikan hadits dari Rasulullah.” Abu Ad-Darda” bertanya kembali, “Tidakkah kamu datang untuk kebutuhan lain?” Ia menjawab, “Tidak.” Abu Ad-Darda” bertanya, “Tidakkah kamu datang untuk kepentingan dagang?” Ia menjawab, “Tidak.” Ia melanjutkan, “Aku tidak datang selain untuk mencari hadits.” Abu Ad-Darda’ berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah a bersabda, ‘Siapa saja yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Allah akan membuka jalan baginya menuju surga. Sesungguhnya para malaikat akan membentangkan sayapnya karena keridhaan mereka terhadap orang yang menuntut ilmu. Sesugguhnya orang yang alim (pandai) akan dimintakan ampunan baginya oleh makhluk yang ada di langit dan di bumi, hingga ikan paus yang ada di lautan. Keistimewaan (kelebihan) orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti keistimewaan bulan atas semua bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak pernah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambil ilmu itu maka sesungguhnya dia telah mengambil bagian yang banyak (sempurna). ” (HR Tirmidzi : 2682, Ibnu Majah: 223).

[3] Jahil terhadap agama adalah tanda kemunafikan.

“Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

خَصْلَتَانِ لَا تَجْتَمِعَانِ فِي مُنَافِقٍ حُسْنُ سَمْتٍ وَلَا فِقْهٌ فِي الدِّينِ

“Dua karakter yang tidak akan pernah terkumpul pada diri seorang munafik; budi pekerti yang baik dan kepandaian daiam urusan agama. ” (HR Tirmidzi : 2684, Ash-Shahihah : 278).

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ قَالَ ذُكِرَ لِرَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا عَابِدٌ وَالْآخَرُ عَالِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

dari Abu Umamah Al Bahili. la berkata, “Rasulullah pemah dicentakan tentang dua orang. yang salah satunya adalah seorang ahli ibadah sedangkan yang lain adalah orang yang berlmu.”‘ Rasulullah shalallahu alaihi wasallam lalu bersabda, “Keutamaan orangyang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan diriku terhadap orang yang paling rendah di antara kalian.” Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melanjutkan, “Sesungguhnya Allah, para malaikat, penghuni langit dan bumi, hingga semut yang ada di lubang sarangnya dan ikan paus akan bershalawat atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR Tirmidzi : 2685.)


Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *