ONANI DENGAN MENGGUNAKAN TANGAN ISTERI

SOAL : Ustadz Ana mau tanya apa hukum onani menggunakan tangan istri. Dari Fathoni di Pasuruan Jawa Timur.

JAWAB :

Barokallahu fikum akhil Karim…..terkait pertanyaan antum tentang onani, ana susun dengan beberapa poin pembahasan :

[1] Definisi Onani.

Secara bahasa Onani yang di dalam bahasa arab disebut Al-Istimnaa (الاِسْتِمْنَاءُ) adalah kata dasar dari اسْتَمْنَى (Istamnaa) yang berarti minta di keluarkan air mani. Adapun dalam istilah fiqih definisi Al-Istimnaa adalah :

إخْرَاجُ الْمَنِيِّ بِغَيْرِ جِمَاعٍ، مُحَرَّمًا كَانَ، كَإِخْرَاجِهِ بِيَدِهِ اسْتِدْعَاءً لِلشَّهْوَةِ، أَوْ غَيْرَ مُحَرَّمٍ كَإِخْرَاجِهِ بِيَدِ زَوْجَتِهِ

Mengeluarkan air mani dengan tanpa melalui hubungan badan baik dengan cara yang haram yaitu dengan tangannya sendiri karena dorongan syahwat, atau dengan cara yang tidak haram seperti mengeluarkan mani melalui tangan istri ( ibnu ‘Abidin 2/100, 3/169, Nihayatul Muhtaj 3/169, As-Syirwani ‘alat Tuhfah 3/410)

[2] Dari Pengertian onani di atas maka Onani di bagi kepada dua bagian yaitu onani dengan menggunakan tangan istri dan onani selain dengan menggunakan tangan istri, bisa tangan sendiri atau tangan orang lain. Disebutkan dengan tangan disini karena kebanyakan orang melakukan onani dengan tangan, akan tetapi sarana onani ini banyak bisa tangan, atau fikiran dan bisa juga onani karena pandangan.

[3] Onani dengan menggunakan tangan selain isteri maka yang benar dalam masalah ini adalah hukumnya haram berdasarkan dalil :

1. Dari Al-Qur’an Firman Allah ta’ala :

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاء ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki ; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu (selain istrei-isteri dan budak) maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS Al-Mukminun : 5-7)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

وَقَدْ اِسْتَدَلَّ الْإِمَام الشَّافِعِيّ رَحِمَهُ اللَّه وَمَنْ وَافَقَهُ عَلَى تَحْرِيم الِاسْتِمْنَاء بِالْيَدِ بِهَذِهِ الْآيَة الْكَرِيمَة” وَاَلَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجهمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانهمْ

Imam syafi’i dan yang sefaham dengannya telah berdalil atas haram nya onani dengan tangan berdasarkan ayat yang mulia ini yaitu firman Allah : Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki (tafsir ibnu Katsir)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata :

فَكَانَ بَيِّنًا فِي ذِكْرِ حِفْظِهِمْ لِفُرُوجِهِمْ إلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ تَحْرِيمُ مَا سِوَى الْأَزْوَاجِ وَمَا مَلَكَتْ الْأَيْمَانُ وَبَيِّنٌ أَنَّ الْأَزْوَاجَ وَمِلْكَ الْيَمِينِ مِنْ الْآدَمِيَّاتِ دُونَ الْبَهَائِمِ ثُمَّ أَكَّدَهَا فَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ {فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ} [المؤمنون: 7] فَلَا يَحِلُّ الْعَمَلُ بِالذَّكَرِ إلَّا فِي الزَّوْجَةِ أَوْ فِي مِلْكِ الْيَمِينِ وَلَا يَحِلُّ الِاسْتِمْنَاءُ وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ

“Ayat itu sebagai penjelasan pada penyebutan “Mereka menjaga kemaluan mereka kecuali kepada isteri-isteri dan budak-budak mereka” atas keharaman (menyalurkan syahwat) kepada selain isteri-isteri dan budak, perkataan isteri dan budak menunjukan dari kalangan manusia bukan binatang. Lalu di kuatkan dengan Firman Allah “Barangsiapa mencari yang di balik itu (selain istrei-isteri dan budak) maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”, Maka tidak halal menyalurkan kemaluan kecuali kepada isteri atau budak, serta tidak halal pula onani wallahu a’lam” (Kitab Al-Umm, As-Syafi’i kitabun Nikah babul Istimna 5/101)

2. Dari As-Sunnah :

Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda! Barang siapa di antara kalian telah mampu dalam biaya nikah maka hendaklah ia menikah, karena menikah bisa menundukkan penglihatan dan menjaga kemaluan. Barangsiapa belum mampu maka hendaklah ia berpuasa, karena berpuasa dapat menjadi pengebiri (perisai) baginya” (HR Bukhari : 1905, Muslim : 1400)

Sisi pendalilannya dari Hadits ini adalah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak memberikan solusi untuk onani kepada para pemuda yang belum mampu menikah akan tetapi Beliau memrintahkannya untuk puasa. Ini menunjukan bahwa onani adalah terlarang.

[4] Onani dengan perantara isteri maka hukumnya boleh berdasarkan keumuman di bolehkannya bersenang-senang dengan istri walaupun bukan dengan cara bersetubuh, dari mulai meraba, mencium, memgang, meremas dan sebagainya. Bahkan walaupun isteri sedang haidh pun selama bukan bersenggama.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan : bahwasanya orang-orang Yahudi tidak makan bersama perempuan mereka apabila sedang haid, dan juga mereka tidak tinggal dalam satu rumah, maka para sahabat bertanya kepada Nabi shalallahu ;alaihi wasallam . Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat :

وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ……

“Mereka bertanya kepadamu Muhammad tentang haid, katakanlah ‘Haid itu kotoran, maka jauhilah para wanita itu selama masa haid…” {Qs. Al Baqarah: 222} Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا النِّكَاحَ

“Lakukanlah apa saja kecuali hubungan intim”. (HR Muslim : 302)

Oleh karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pun mencumbu dan bersenang-senang dengan isterinya yang sedang haidh, sebagaimana di riwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata :

كَانَ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا أَمَرَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَأْتَزِرَ فِي فَوْرِ حَيْضَتِهَا ثُمَّ يُبَاشِرُهَا قَالَتْ وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْلِكُ إِرْبَهُ

“Apabila salah seorang dari kami (para istri Rasulullah) sedang haid, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkannya agar menutupkan kain di kemaluannya, kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menggaulinya {tanpa menyentuh kemaluannya}. Aisyah mengatakan, “Siapa di antara kalian yang mampu mengendalikan dirinya sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ” (HR Bukhari : 302, Muslim : 293)

Didalam fatwa Lajnah Ad-Daaimah 5/395 disebutkan :

يحرم على الزوج أن يجامع زوجته في فرجها وهي حائض ، وله أن يباشرها فيما عداه اهـ. والأولى للرجل إذا أرد أن يستمتع بامرأته وهي حائض أن يأمرها أن تلبس ثوباً تستر به ما بين السرة والركبة ، ثم يباشرها فيما سوى ذلك .

Diharamkan bagi seorang suami bersetubuh dengan isterinya yang sedang haidh. Boleh baginya untuk mencumbuinya selain kemaluan. Dan lebih utama kalau seseorang mau bersenang-senang dengan isterinya yang sedang haidh agar memerintahkannya memaki pakaian yang menutup antara pusar dan lutut (jangan telanjang bulat) lalu boleh mencumbui wilayah selain kemaluan.

[5] kesimpulannya : di bolehkan seseorang onani dengan bercumbu dan bersenang-senang dengan isterinya. Adapaun onani tanpa perantaraan isteri maka hukumnya yang kuat dalam masalah ini adalah terlarang. Wallahu a’lam.

Abu Ghozie As-Sundawie

 

Share this: