DEMI WAKTU

Banyak sekali Allah Ta’la bersumpah di dalam Al Qur’an dengan waktu dan bagian bagiannya, seperti Demi waktu (wal ‘ashri), demi waktu fajar (wal fajri) , demi waktu dhuha (wad Dhuha), demi matahari (was Syamsi), demi bulan (wal qamari), demi malam (wal Laili), demi siang (wan Nahari), ini semua menunjukan begitu pentingnya waktu, begitu mahal dan berharganya umur manusia. Akan tetapi amat disayangkan banyak diantara manusia yang tidak memanfaatkannya dengan benar tidak me-manage-nya dengan baik.

Dari Ibnu Abbas ardhiyallahu ‘anhuma , Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengan nya adalah nikmat sehat dan nikmat waktu luang” (HR Bukhari : 6412)

Beliaupun mengingatkan kita agar menggunakan waktu sebaik baiknya sebelum menyesal,

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Persiapkanlah lima perkara sebelum datang yang lima, (yaitu) masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kaya mu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sempitmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu” (HR Hakim, Al Mustadrok 4/306, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah di kitab Shahih Jaami’us Shaghir no 1088)

Ibnu ‘Umar radliyallahu anhuma berkata :

إذَا أَمْسَيْت فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْت فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِك لِسَقَمِك، وَمِنْ حَيَاتِك لِمَوْتِك

“Apabila engkau berada diwaktu sore maka janganlah menunggu pagi, dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah engkau menunggu sore, ambilah masa sehatmu sebelum dating masa sakitmu, dan masa hidupmu sebelum dating masa matimu” (HR Bukhari : 6416)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata ” Aku tidak menyesal melebihi penyesalanku terhadap terbitnya mentari pagi dimana ajalku berkurang akan tetapi amalku tidak bertambah” (Aina Nahnu Min Haula 2/11)

Ketahuilah Saudaraku barokallahu fikum, bahwa Manusia sejak ia diciptakan hakekatnya adalah musafir (yang sedang melakukan perjalanan) , dan perjalanan nya tidak akan pernah berhenti kecuali di terminal akhir yaitu di surga atau di neraka.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menasehati Ibnu ‘Umar radliyallahu anhuma dengan sabdanya :

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Hiduplah engkau di dunia seolah olah engkau adalah pengembara atau yang melintas jalan” (HR Bukhari : 6416)

Imam Al Hasan Bashri rahimahullah berkata, ” Tidaklah hari melewati bani adam, kecuali ia berkata, wahai anak adam, aku adalah hari mu yang baru, aku menjadi saksi atas amal perbuatanmu padanya, apabila aku berlalu dari mu, aku tidak akan kembali selamnya, persembahkan (amalan) sesukamu yang akan engkau dapatkan (hasilnya) kelak disisimu, atau sia siakan terserah kamu karena aku tidak akan kembali selamanya” (Al hasan Bashri, hal. 140)

Imam Syafi’i membagi waktu malamnya menjadi tiga bagian , sepertiga pertama untuk menulis kitab, sepertiga kedua untuk shalat dan sepertiga yang akhir untuk tidur (As Siyar 10/35)

Akhirnya marilah kita mengingat 3 Karakteristik waktu : Waktu begitu Cepat berlalu, Waktu itu juga kalau terluput, ia tidak akan pernah kembali atau tergantikan selamanya, dan waktu dalam kehidupan manusia demikian sangat berharga nya. Sebagian orang berkata waktu adalah uang, tapi bagi kita waktu adalah modal kita untuk mempersiapkan bekal pulang ke negeri akhirat.

Abu Ghozie As-Sundawie,

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *